Menjadi Melakukan Mempunyai

"Success is My Right" Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan... dan salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah....
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Menjadi Diri Sendiri (Tentang Jati diri)

Betapa nafsu atau keinginan untuk menjadi serupa orang lain akan berujung pada penderitaan dan rasa Frustasi sedangkan menerima dan menyukai diri sendiri akan membuat kita tolerans dan mudah menerima orang lain dengan segala perbedaannya

Menjadi Diri Sendiri
Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.
Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah… Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”
Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.


Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaat. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.



Sahabat delphi yang berbahagia...!!!
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.
Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga butuh melatih danmemelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.
Jadilah diri sendiri! Be your self..!
Referensi : delphi ambil dari audio bpk. Andrie Wongso Classical Motivation Stories #9 nomor 09 yang berjudul Menjadi Diri Sendiri.
Salam sukses luar biasa...!!!
Success is My Right
Terimakasih telah berkunjung di blog delphi ini...!!!!
Semoga Bermanfaat Sobat delphi...!!! 


Rabu, 28 September 2011

Pesan Ibu menceritakan tentang dignity atau standart Kehormatan Diri.

Apapun milik kita bisa diambil, hilang atau dirampas orang kecuali dignity atau standart Kehormatan Diri. pada kisah ini kita akan menemukan dignity yang Luar Biasa dari Seorang Bocah.
( Pesan Ibu )
Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya.....!"

"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.
Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."
Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."
dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.
Dengan senang hati.... diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.
Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Langsung menegur, Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?
"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.
Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira.
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."
Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."
Sahabat delphi....
Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.
Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.
 "Engkau Boleh Miskin Kantong Namun Janganlah Engkau Miskin Mental"

Salam sukses luar biasa...!!!
Success is My Right
delphi ambil dari CD Audio Bpk Andrie Wongso

Selasa, 27 September 2011

Rumah yang Sunyi Menceritakan tentang indahnya keluarga

Kesanggupan kita dalam menyelesaikan berbagai tugas, pekerjaan yang sulit, berat dan yang paling membosankan sekalipun adalaha karena dilandasi cinta. karena cinta semua terasa bermakna terasa ringan dan menyenangkan. nah itulah inti dari kisah ini....

Suatu pagi, di sebuah rumah, terdengar teriakan suara seorang ibu memberi perintah dan omelan kepada kedua putranya.
Ayo, cepat. Makan jangan lambat-lambat begitu. Buku PR-nya sudah dimasukin ke dalam tas? Bercandanya nanti saja kalau sudah pulang dari sekolah. Ayo anak-anak, jangan terlambat, nanti kena hukuman lagi lho. seru si ibu dengan nada tegas.
Tidak lama kemudian, setelah anak-anak berangkat ke sekolah, suasana hiruk pikuk pun akhirnya terhenti. Rumah pun menjadi sepi. Yang tertinggal hanyalah segala macam barang-barang berserakan: mangkuk, piring-piring dan gelas-gelas kosong, kamar mandi yang kotor, tumpukan baju bekas pakai, dan sandal yang entah ke mana pasangannya. Sambil menghela napas, si ibu melihat sekeliling dan merasa seakan semua pekerjaan bertumpuk telah menunggunya untuk disentuh dan dibereskan.
Tidak lama kemudian, si suami yang bersiap-siap hendak pergi ke kantor, dengan lantang berseru, "Bu, di mana dasiku yang berwarna biru? Tolong carikan, Bapak lagi buru-buru nih. Oh ya, kaos kakinya sekalian. Sarapannya dibawa saja ya, tolong siapin sekalian! Makasih Bu!"
Mendengar ucapan sang suami, dengan cekatan si istri membantu mencarikan barang-barang yang diperlukan suaminya dan memindahkan sarapan di meja untuk dibawa. Tak lama kemudian, dengan keberangkatan suaminya, kesunyian semakin terasa. Seisi rumah seakan lenyap dan menyisakan pekerjaan rumah yang menggunung.
Ada kepeningan dan kejenuhan yang melanda si ibu. Dia merasa tidak bahagia karena hari demi hari dilaluinya dengan kondisi yang nyaris sama, yakni selalu dengan beban pekerjaan rumah menumpuk. Hal tersebut membuat semua beban yang harus dipikulnya tidak tertanggung lagi. 
Hingga suatu hari, untuk menenangkan pikiran, ibu itu pergi menengok neneknya yang tinggal di kota sebelah. Saat itu, ketika melihat cucunya tampak kusut, tidak terawat, dan bersedih hati, neneknya bertanya, "Aduh, cucu nenek kok kusut begitu sih. Ada apa cucuku? Ada yang ingin kamu keluhkan ke nenekmu ini? Ayo ceritalah unek-unekmu, nenek siap mendengarkan."
Mendapatkan kesempatan mencurahkan sebagian perasaannya, sambil menangis ia mengisahkan semua keluh kesah dari apa yang dirasakannya. Di akhir cerita, dia bertanya, Nek, apakah menikah, bersuami dan memiliki anak-anak berarti setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya? Sepanjang hari, bulan, tahun bahkan sepanjang masa? Sungguh aku lelah Nek, lahir batin. Sepertinya tidak ada lagi yang tersisa, sedikit saja untuk diriku sendiri. Apakah Nenek juga pernah merasa seperti itu? Tolong aku, Nek.
Hmm.. aku mengerti perasaanmu. Nenek akan coba bertukar pengalaman. Namun sebelumnya, cobalah ikuti apa yang nenek perintahkan. Sekarang, cobalah pejamkan matamu. Coba bayangkan rumahmu tertata apik, rapi, dan bersih. Apakah kamu merasa senang, lega, dan bahagia?
Setelah sejenak memejamkan mata dan membayangkan apa yang diperintahkan nenek, si ibu menjawab, "Ya, Nek. Aku bahagia berasa di tengah rumah yang apik dan resik." Sesaat, senyum simpul terlihat menghiasi bibir yang tadinya terlihat kecut dan banyak beban.
Melihat kondisi itu, si nenek kembali berkata, "Rumahmu kini apik dan resik, tetapi kosong. Tidak ada anak-anakmu di dalamnya serta kasih sayang suamimu juga tak ada. Apakah kamu mau?" Mendengar ucapan nenek, senyuman di wajah si ibu kembali menghilang.
Nenek pun melanjutkan ucapannya, "Kini, bayangkan wajah ketiga putramu yang sedang bermain dengan gembira sambil mengotori rumahmu. Bayangkan juga suamimu yang penuh semangat sedang menyiapkan kerja untuk menafkahi keluargamu." 
Saat itulah, si ibu seolah tersadar akan sesuatu yang selama ini membebaninya. "Oh, aku tahu, Nek. Aku tetap memilih rumah yang berantakan tetapi dengan keluarga yang aku cintai di dalamnya, daripada rumah yang apik tetapi kosong dan dingin. Terima kasih, Nek. Ternyata keluargalah yang membuat rumah hangat dan mendatangkan kegembiraan."
"Cucuku, syukurlah jika kamu telah mengerti. Bila cinta yang mendasari kamu mengerjakan pekerjaan rumah, maka sebenarnya itu bukanlah beban, tetapi adalah tanggung jawab kita sebagai bagian dari sebuah keluarga. Setuju kan?" lanjut sang nenek. Si cucu pun mengangguk dan tersenyum gembira sambil memeluk sayang neneknya.
Sahabat delphi yang berbahagia,
Kejenuhan akan rutinitas yang dikerjakan sehari-hari, kadang membuat kita seakan terjebak di dalamnya. Kita seolah merasa, apa yang dikerjakan justru menjadi beban tak terkira. Akibatnya, kita akan merasa tidak bahagia. Padahal sejatinya, jika semua bisa dikerjakan dengan penuh cinta, semua beban berat hanya akan jadi "pijakan" mencapai kebahagiaan bersama.
Untuk itu, kepada para ibu di mana pun, jangan merasa rendah diri karena berstatus sebagai ibu rumah tangga. Itu sebuah tanggung jawab yang mulia! Tanpa kehadiran, cinta, dan pengabdian seorang ibu, lalu apalah artinya sebuah rumah tangga? Karena sesungguhnya, tidak akan ada pemimpin sehebat apa pun, tanpa seorang ibu yang melahirkannya. Tanpa seorang ibu, tidak ada siapa pun kita saat ini.
Begitu juga adanya diri kita. Jika merasa beban sudah memberatkan, cobalah lihat sisi lain dari apa yang sedang kita lakukan. Sebab pastinya, tak ada pekerjaan yang tak memberikan hasil nyata. Karena itu, lakukan semua dengan penuh tanggung jawab dan cinta. Sebab, sesungguhnya, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat bila dikerjakan dengan landasan keikhlasan dan niatan mulia.

Lakukan semua dengan cinta. Berikan semua dengan kasih nyata. Maka hidup kita akan dipenuhi rasa bahagia. 

Salam sukses luar biasa...!!!
Success is My Right
delphi ambil dari CD Audio Bpk Andrie Wongso
 

Senin, 26 September 2011

Tukang Gembok dan Muridnya


Keahlian yang berlandaskan moral dan etika akan menghasilkan profesionalisme kerja yang positif, bila keahlian tanpa moralitas yang benar pastik akan melahirkan penjahat-penjahat kelas dunia yang tentu akan mempermalukan keluarga dikemudian hari.
Alkisah, seorang ahli kunci yang sangat termasyhur bermaksud mewariskan satu ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian. Ahli kunci ini memiliki dua orang murid yang sama-sama pandai. Setelah beberapa tahun dididik, kedua orang murid itu sudah mahir dan menguasai semua teknik membuka segala jenis gembok. Hanya saja, ilmu tertinggi itu harus diwariskan hanya kepada satu orang yang benar-benar memenuhi kriteria. Oleh karena itu, untuk menentukan pewaris ilmunya, si ahli kunci tadi kemudian menggelar sebuah ujian yang diadakan pada waktu bersamaan.
Maka disiapkanlah dua buah peti yang tergembok rapat dan di dalamnya diisi dengan satu bungkusan berisi barang berharga. Kedua peti yang tergembok rapat itu lalu ditempatkan di dalam dua kamar yang bersebelahan. Berikutnya, murid pertama dan murid kedua disuruh masuk ke dalam kamar-kamar tadi secara bersamaan. "Tugas kalian adalah membuka gembok peti-peti di dalam kamar itu. Ayo, laksanakan...!" perintah si ahli kunci.
Tidak lama kemudian, murid pertama keluar dari kamar lebih dulu dan tampak berhasil menyelesasikan tugasnya. Sang ahli kunci langsung bertanya, "Bagus... tampaknya kau berhasil mengerjakan tugasmu. Apa isi peti itu?" 
Murid pertama menjawab dengan percaya diri dan perasaan penuh kemenangan, "Di dalam peti itu terdapat sebuah bungkusan. Dan di dalam bungkusan itu ada sebuah permata yang berkilauan.. Indah sekali! Andaikan saya bisa memiliki permata itu..."
Mendengar jawaban itu yang penuh dengan rasa percaya diri itu, si ahli kunci tersenyum bijak. Ia segera menoleh ke arah murid kedua yang baru saja keluar dari kamar. Ia langsung menanyakan hal yang sama, "Bagus... tampaknya kau juga berhasil mengerjakan tugasmu. Apa isi peti itu?"
Mengetahui dirinya kalah cepat dalam membuka peti, murid kedua hanya menjawab dengan pelan. "Saya hanya membuka gembok peti itu, lalu keluar. Saya tidak membuka petinya, apalagi melihat isinya."

Mendengar jawaban itu, sang ahli kunci tersenyum puas. "Baiklah. Berdasarkan hasil ujian tadi, maka kau murid kedua... kaulah pemenangnya. Engkaulah yang akan mewarisi ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian yang aku miliki," demikian si ahli kunci memutuskan.
Keputusan ahli kunci itu kontan membuat murid pertama kaget setengah mati. "Guru...!" teriak murid pertama yang kecewa.
"Bukankah saya yang berhasil membuka gembok lebih cepat? Mengapa bukan saya yang dipilih sebagai pewaris ilmu itu?" tanya si murid pertama dengan gusar.
Mendengar kegusaran murid pertamanya itu, si ahli kunci kembali tersenyum bijak. "Murid-muridku, dengar! Profesi kita adalah tukang kunci dan membuka gembok adalah tugas kita. Kita harus membantu orang membuka gembok yang kuncinya hilang atau rusak. Jika gembok sudah dibuka, tugas kita selesai. Kalau kita juga ingin melihat isinya, itu berarti melanggar kode etik profesi kita sebagai ahli kunci."
Selanjutnya, si ahli kunci meneruskan nasihatnya. "Tidak perduli apa pun pekerjaan kita, moral dan etika profesional harus dijunjung tinggi. Tanpa moraldan etika, maka seorang ahli kunci bisa dengan mudah beralih profesi menjadi seorang pencuri. Kalian mengerti?"
Mendengar hal itu, murid pertama mengangguk-anggukkan kepala. Dia menyadari di mana letak kesalahannya. Dia juga bersyukur telah mendapat satu lagi pelajaran moral yang sangat berharga sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat. Walaupun kecewa karena dirinya tidak bisa menjadi pewaris ilmu tertinggi yang dimiliki gurunya, murid pertama merasa tetap mendapatkan sebuah ilmu yang berharga sekali. Itulah ilmu mengenai moral dan etika profesional. Sejak saat itu, murid pertama berjanji pada diri sendiri, kelak dalam menjalankan profesinya, ia akan menjadi seorang ahli kunci professional yang menjunjung tinggi moralitas dan etika profesinya.

Sahabat delphi yang bahagia....!
Memang tepat apa yang diilustrasikan dalam cerita tadi. Kita sebagai seorang profesional di bidang apa pun harus mampu melakukan tugas dan pekerjaan sesuai dengan lingkup kerja profesionalisme kita. Jika tidak mengerti fungsi dan tanggung jawab sebagai profesional dengan benar, apalagi tidak memiliki etika dan moral, kita akan mudah terperosok kepada kesalahan-kesalahan profesi. Jika tidak tegas dalam mengontrol atau mengendalikan godaan pikiran negatif, kita pun akan mudah terjurumus dalam pelanggaran-pelanggaran yang dapat mendatangkan akibat fatal bagi karir dan masa depan kita.
Marijalankan profesionalisme kerja dengan etika moral secara bersamaan seirama proses waktu yang berjalan maka nama baik dan kepercayaan serta kesuksesan besar pasti akan berada ditangan kita.

Salam sukses luar biasa...!!!
Success is My Right
delphi ambil dari CD Audio Bpk Andrie Wongso
 

Senin, 19 September 2011

Kakek Berusia 10 Tahun



Semangat Menimba Ilmu tidak tergantung usia dan bangku sekolah karena modal waktu, entah dimanfaatkan dengan baik atau disia-siakan adalah sama bagi setiap orang 24 jam dalam sehari, mengingatkan akan nilai waktu adalah pesan yang ingin disampaikan dalam kisah ini.



Dikisahkan, di bawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh seorang guru. Di antara anak-anak itu, terlihat seorang kakek duduk di sana.
Seusai pelajaran, seorang pemuda dengan penasaran menghampiri dan bertanya kepada si kakek, "Kek, apakah kakek seorang guru?"
"Bukan..., aku bukan seorang guru. Aku juga sedang belajar, sama dengan anak-anak itu."
"Lho, memangnya, berapa umur kakek?"
"Umur kakek tahun ini, tepat 10 tahun."
"Ah..., kakek bercanda! Perkiraanku, umur kakek sudah 70 tahunan..."
"Ha ha ha, tebakanmu benar! Bila dihitung dari saat kakek lahir hingga kini, umur kakek memang 70 tahun. Tetapi, 60 tahun yang telah dilewati jangan dihitung. Yang benar-benar dapat dihitung adalah kehidupanku sepuluh tahun terakhir ini."
Si pemuda menunjukkan wajah kebingungan. Ia pun bertanya, "Apa artinya, Kek?"
Sambil menghela napas panjang si kakek menjawab, "Sejak kecil sampai usia 20 tahun, yang seharusnya waktu terbaik untuk belajar, tetapi kakek sibuk bermain dan bersantai. Karena semua kebutuhan hidup telah disediakan berlimpah oleh orangtua kakek. Kemudian 20 tahun berikutnya, waktu yang seharusnya untuk mengejar karir dan berjuang, kakek malah menggunakannya untuk berfoya-foya-menghamburkan harta yang diperoleh dengan susah payah oleh orangtua kakek. Dan 20 tahun ketiga, waktu yang seharusnya untuk mengumpulkan tabungan sebagai persiapan pensiun di masa tuaku, malahan kakek gunakan untuk pergi tamasya, menghabiskan sisa harta yang masih ada. Semua hanya untuk mengejar kesenangan sesaat. Coba, kamu pikir, bukankah 60 tahun telah kulewati itu sia-sia? Tidak ada satu pun yang kupelajari."
"Lalu bagaimana dengan sepuluh tahun terakhir hidup kakek?"
Dengan mata berkaca-kaca si kakek bertutur, "Sepuluh tahun terakhir aku sadar, 60 tahun hidup dilalui tanpa makna, tanpa tujuan, dan tanpa cita-cita... Sungguh hidup yang sia-sia, tidak berguna. Saat sadar, kakek sudah hidup sebatang kara dan tanpa harta.Untuk hidup pun harus ditunjang dari belas kasihan orang lain. Anak muda, jangan meniru kehidupan seperti yang telah kakek jalani. Karena, waktu adalah modal utama paling berharga yang dimiliki oleh setiap manusia. Pergunakanlah baik-baik untuk belajar,berusaha, dan berkarir. Efektivitaskan waktumu pada tujuan yang jelas, dan berjuang meraih keberhasilan. Maka kelak di hari tuamu, kamu akan menjalani kehidupan ini dengan bangga dan bahagia."
Teman-teman yang luar biasa,
Saat ini kita hidup di Abad ke-21, di mana zaman mempunyai ciri khas yakni perubahan yang cepat, perkembangan teknologi yang semakin pesat, persaingan di semua lini usaha yang begitu ketat. Dan kita dituntut menjadi manusia pembelajar yang bisa menghargai waktu dan mengelolanya secara cerdas, cermat, dan cekatan.
Jika kita mampu mengelola waktu dengan begitu smart, bisa dipastikan kehidupan kita akan punya warna, punya ciri, dan berkualitas. Manfaatkan waktu yang begitu berharga! Seperti pepatah berbunyi, time is money (waktu adalah uang). Tetapi lebih dari itu, time is life (waktu adalah nyawa)...!

Sumber Referensi : Audio CD bapak Andrie Wongso atau www.andriewongso.com

Semoga bermanfaat sobat delphi
Salam sukses Luar Biasa “Success is My Right

Selasa, 06 September 2011

Berubah itu dari dalam keluar bukannya mengubah casing / penampilan saja


The change is from inner to outer. We start by dissolving our attitude not by altering outer conditions 
Berubah dimulai dari dalam keluar. Kita memulainya dengan memperbaiki sikap kita, bukan mengubah kondisi kita dari luar.

Tekad kita untuk mengubah sikap seringkali dimulai dengan mengganti penampilan kita. Harapannya adalah dengan penampilan yang berubah, sikap batin kitapun juga ikut berubah. Namun seringkali perubahan yang dimulai dari luar hanya mengganti penampilannya saja, sedangkan pola fakir dan sikap kita tetep seperti dulu. Temen delphi dari bilang dari jember dia berkata “amshong,,, nyo” atau boleh dikatakan sama juga bohong. Hohohoho

Mengubah sikap miskin mental seperti malas, tidak disiplin, mudah menyerah, kurang kerja keras, tak menghargai waktu dan sebagainya dimulai dengan kesadaran bahwa sikap itu memang harus diubah. Rasa malas itu dibuang bukan dengan cara mengubah penampilan, tetapi tekad bulat yang berasal dari dalam diri. Ketika kita menyadari malas itu tidak baik. Hal pertama yang terjadi adalah batin kita meyakininya. Dengan keyakinan dan tekad bulat dari dalam diri, setiapkali ada godaan untuk bermalas-malasan akan dengan mudah disingkirkan. Begitupun saat akan mengubah sikap miskin mental lainnya dengan kesadaran penuh dari dalam diri. Perubahan itu akan mudah dilakukan.

Namun membangun sikap akan kaya mental perlu proses dan Delphi pernah bilang bahwasannya “Proses lebih penting daripada Sasaran” butuh waktu yang lama untuk semuanya itu bukan sekali jadi atau instant. Sikap perilaku baik seringkali harus dipaksa dan diulang secara terus menerus tanpa henti hingga akhirnya kemudahan menjadi kebiasaan. Ketika sudah menjadi kebiasaan, sikap kaya mental itu akan menyatu dengan diri kita dan kemudian akan menjadi karakter kita.

Dan saat itu telah terjadi, maka apapun kondisi dari luar kita, bekal kekayaan mental yang telah kita bina akan muncul sebagai kekuatan untuk “Mengendalikan” perubahan di luar kita. Sehingga, segala tantangan halangan, dan rintangan akan bisa kita taklukkan dengan penuh keyakinan.

“Engkau boleh miskin kantong namun janganlah engkau miskin Mental”

Catatan kecil ini delphi ambil dari buku bapak Andrie Wongso yang berjudul “Bruce Lee 40 Spirit of Success”
Semoga catatan singkat ini bisa bermanfaat bagi pembaca setia blog delphi
Salam Sukses Luar Biasa
by: www.delphigold.blogspot.com


Kamis, 18 Agustus 2011

Be Water "Jadilah laksana Seperti air"

delphi ambil dari buku cerita yang berjudul Bruce Lee 40 Spirit of Success 
karya Bpk Andrie Wongso






Spirit of Success 19
Bruce Lee Begitu menggagumi air. Tak heran jika filosofinya air diterapkan pula pada ilmu bela diri Jeet Kune Do, yaitu Fleksibilitas, adaptif, lembut, namun Kuat.
Menjadi seperti air berarti Fleksibel. di dalamnya tersimpan kelembutan, kekuatan, kehidupan sekaligus kebijaksanaan. Air adalah zat yang adaptif, dimana saja, tetapi juga kuat. Tak tertangkap oleh Genggaman tangan tetapi bisa dirasakan kehadirannya.
Air lembut tak, berujung, dan tidak tajam, menunjukkan ia bisa jadi sahabat. Tetapi air bisa keras, kuat dan tegas. Tetesan air yang terus menerus bisa melubangi kerasnya batu karang atau bisa membuat besi yang kuat berkarat dan hancur. Air juga bisa melahirkan bencana yang tak tertaklukkan. Ombak yang bergulung, bencana besar Tsunami, atau banjir menjadi peringatan betapa dahsyatnya kekuatan air. Selama kita mampu menyelami sifat air, air bisa menjadi sahabat tiada duanya. Karena kita tahu, tanpa air tak akan ada kehidupan ini.
Mari jadikan diri kita laksana air. Bersifat rendah hati seperti sifatnya air yang selalu mengalir ketempat yang lebih rendah. Fleksibel dalam menghadapi beban ujian dan cobaan, tegas dan kuat menghadapi tantangan, serta selalu mampu membawa kebaikan, bagi diri sendiri, semua makhluk. Sehingga hidup akan seimbang berarti dan bahagia.

Salam Sukses Luar Biasa
Success is My Right
by: www.delphigold.blogspot.com


Senin, 01 Agustus 2011

Pribadi Yang Suka Bersyukur


“Mereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (Saba’:13)

Ayat ini mengabadikan anugerah nikmat yang tiada terhingga kepada keluarga nabi Daud as sebagai perkenan atas permohonan mereka melalui lisan nabi Sulaiman as yang tertuang dalam surah Shaad: 35, “Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Betapa nikmat yang begitu banyak ini menuntut sikap syukur yang totalitas yang dijabarkan dalam bentuk amal nyata sehari-hari.

Tampilnya keluarga Daud sebagai teladan dalam konteks bersyukur dalam ayat ini memang sangat tepat, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:

“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”.

Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat. Dalam riwayat lain yang dinyatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh bahwa nabi Daud pernah mengadu kepada Allah ketika ayat ini turun. Ia bertanya: “Bagaimana aku mampu bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari Engkau? Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena engkau mengakui nikmat itu berasal daripada-Ku”.

Keteladanan nabi Daud yang disebut sebagai objek perintah dalam ayat perintah bersyukur di atas, ternyata diabadikan juga dalam beberapa hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”

Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt.

Secara redaksional, yang menarik karena berbeda dengan ayat-ayat yang lainnya adalah bahwa perintah bersyukur dalam ayat ini tidak dengan perintah langsung “Bersyukurlah kepada Allah”, tetapi disertai dengan petunjuk Allah dalam mensyukuri-Nya, yaitu “Bekerjalah untuk bersyukur kepada Allah”. Padahal dalam beberapa ayat yang lain, perintah bersyukur itu langsung Allah sebutkan dengan redaksi fi’il Amr, seperti dalam firman Allah yang bermaksud, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152), juga dalam surah Az-Zumar: 66, “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Redaksi seperti dalam ayat di atas menunjukkan bahwa esensi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.

Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.

Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan dalam rangka mensyukuri Allah swt.

Makna inilah yang difahami oleh Rasulullah saw ketika Aisyah mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan seakan-akan memaksa diri hingga kakinya bengkak-bengkak. Saat ditanya oleh Aisyah, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosa-dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah (jika demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari).

Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Dalam pandangan Sayid Qutb, penutup ayat di atas “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian hamba Allah swt dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu menandingi nikmat Allah swt yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak terbilang. Sehingga sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka yang tidak mensyukurinya sama sekali. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.

Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Allah swt berfirman diantaranya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (Saba’:19). Ayat yang senada dengan redaksi yang sama diulang pada tiga tempat, yaitu surah Ibrahim: 5, Luqman: 31, dan surah Asy-Syura’: 33.

Memang komitmen dengan akhlaqul Qur’an, di antaranya bersyukur merupakan satu tuntutan sekaligus kebutuhan di tengah banyaknya cobaan yang menerpa bangsa ini dalam beragam bentuknya. Jika segala karunia Allah swt yang terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan senantiasa mengacu kepada aturan Allah swt, Sang Pemilik Tunggal, maka tidak mustahil, Allah swt akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya untuk bangsa ini dan menjauhkannya dari malapetaka, karena demikianlah balasan yang tertinggi yang disediakan oleh Allah swt bagi komunitas dan umat yang senantiasa mampu mensyukuri segala bentuk nikmat Allah swt:

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (An-Nisa’:147) Allahu A’lam.

Minggu, 31 Juli 2011

Enam Kekuatan Manusia


1. Kekuatan Impian (The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.

2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.

3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline)

Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.

5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.

6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.

Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.

Masalah Adalah Hadiah


Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin anda pernah mengalami pengalaman buruk yang tak menyenangkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sudut mata yg berkaitan uang saja.

Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria.

Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis dan muka.

Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meskipun melalui anak sungai, belokan, kawasan kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di muara, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rumput, sebagian tertampung dalam sumur-sumur atau telaga. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui?

Masalah Adalah Hadiah.

Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya atau menjauhinya. Bila anda menganggap masalah sebagai halangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat kejayaan di balik setiap masalah.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur kesuksesan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, dekapan hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tempat yang tinggi.

Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Beberapa ketika kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tidak berani mengatasi masalah, andatidak akan menjadi seseorang yang sejati.

http://www.emotivasi.com

Memberi Mendatangkan Kebahagiaan



Ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya.

Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20
dollar dan mengedipkan sebelah matanya.

Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi
sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi.The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan.. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima.
Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa dan membebaskan oksigen.

Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir.
Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah :
Apakah yang harus saya berikan?
Jawabannya sama dengan pertanyaan :
Apa yang Anda ingin dapatkan?
Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang.
Jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan.
Jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang.
Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yang mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yang bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi”

Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan.
InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:

1. Hadiah.
Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah, apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu,
namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah
teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, berikan doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.

2. Bersyukur.
Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone atau iPod baru kepada Anda.Jelas Anda harus syukuri apa yang Anda terima.

3. Cinta.
Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat : Cinta.
Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah
kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktekkan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktekkan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Berapa kali Anda dalam sehari mengucapkan bahwa Anda sayang suami/ istri Anda?

4. Tawa.
Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Tukul daripada Anda.

5. Pengetahuan.
Anda pasti tahu sesuatu lebih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan.
Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.
Komentar Pembaca

Motivasi Sukses dalam Hidup Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger